Kota Malang, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, terletak 90 km sebelah selatan Kota Surabaya, dan wilayahnya dikelilingi oleh Kabupaten Malang. Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur, dan dikenal dengan julukan kota pelajar.
Sejarah

Gedung Balaikota Malang dilihat dari Alun-alun bundar
Wilayah cekungan Malang telah ada sejak masa purbakala menjadi kawasan pemukiman. Banyaknya sungai yang mengalir di sekitar tempat ini membuatnya cocok sebagai kawasan pemukiman. Wilayah Dinoyo dan Tlogomas diketahui merupakan kawasan pemukiman prasejarah.[3] Selanjutnya, berbagai prasasti (misalnya Prasasti Dinoyo), bangunan percandian dan arca-arca, bekas-bekas pondasi batu bata, bekas saluran drainase, serta berbagai gerabah ditemukan dari periode akhir Kerajaan Kanjuruhan (abad ke-8 dan ke-9) juga ditemukan di tempat yang berdekatan.[3][4]
Nama "Malang" sampai saat ini masih diteliti asal-usulnya oleh para ahli sejarah. Para ahli sejarah masih terus menggali sumber-sumber untuk memperoleh jawaban yang tepat atas asal-usul nama "Malang". Sampai saat ini telah diperoleh beberapa hipotesa mengenai asal-usul nama Malang tersebut.
Malangkucecwara yang tertulis di dalam lambang kota itu, menurut salah satu hipotesa merupakan nama sebuah bangunan suci. Nama bangunan suci itu sendiri diketemukan dalam dua prasasti Raja Balitung dari Jawa Tengah yakni prasasti Mantyasih tahun 907, dan prasasti 908 yakni diketemukan di satu tempat antara Surabaya-Malang. Namun demikian dimana letak sesungguhnya bangunan suci Malangkucecwara itu, para ahli sejarah masih belum memperoleh kesepakatan. Satu pihak menduga letak bangunan suci itu adalah di daerah gunung Buring, satu pegunungan yang membujur di sebelah timur kota Malang dimana terdapat salah satu puncak gunung yang bernama Malang. Pembuktian atas kebenaran dugaan ini masih terus dilakukan karena ternyata, disebelah barat kota Malang juga terdapat sebuah gunung yang bernama Malang.
Pihak yang lain menduga bahwa letak sesungguhnya dari bangunan suci itu terdapat di daerah Tumpang, satu tempat di sebelah utara kota Malang. Sampai saat ini di daerah tersebut masih terdapat sebuah desa yang bernama Malangsuka, yang oleh sebagian ahli sejarah, diduga berasal dari kata Malankuca yang diucapkan terbalik. Pendapat di atas juga dikuatkan oleh banyaknya bangunan-bangunan purbakala yang berserakan di daerah tersebut, seperti Candi Jago dan Candi Kidal, yang keduanya merupakan peninggalan zaman Kerajaan Singasari.
Dari kedua hipotesa tersebut di atas masih juga belum dapat dipastikan manakah kiranya yang terdahulu dikenal dengan nama Malang yang berasal dari nama bangunan suci Malangkucecwara itu. Apakah daerah di sekitar Malang sekarang, ataukah kedua gunung yang bernama Malang di sekitar daerah itu. Sebuah prasasti tembaga yang ditemukan akhir tahun 1974 di perkebunan Bantaran, Wlingi, sebelah barat daya Malang, dalam satu bagiannya tertulis sebagai berikut : “………… taning sakrid Malang-akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah Limpa Makanagran I ………”. Arti dari kalimat tersebut di atas adalah : “ …….. di sebelah timur tempat berburu sekitar Malang bersama wacid dan mancu, persawahan Dyah Limpa yaitu ………” Dari bunyi prasasti itu ternyata Malang merupakan satu tempat di sebelah timur dari tempat-tempat yang tersebut dalam prasasti itu. Dari prasasti inilah diperoleh satu bukti bahwa pemakaian nama Malang telah ada paling tidak sejak abad 12 Masehi.
Nama Malangkucecwara terdiri atas 3 kata, yakni mala yang berarti kecurangan, kepalsuan, dan kebatilan; angkuca yang berarti menghancurkan atau membinasakan; dan Icwara yang berarti "Tuhan". Sehingga, Malangkucecwara berarti "Tuhan telah menghancurkan kebatilan".
Hipotesa-hipotesa terdahulu, barangkali berbeda dengan satu pendapat yang menduga bahwa nama Malang berasal dari kata “Membantah” atau “Menghalang-halangi” (dalam bahasa Jawa berarti Malang). Alkisah Sunan Mataram yang ingin meluaskan pengaruhnya ke Jawa Timur telah mencoba untuk menduduki daerah Malang. Penduduk daerah itu melakukan perlawanan perang yang hebat. Karena itu Sunan Mataram menganggap bahwa rakyat daerah itu menghalang-halangi, membantah atau malang atas maksud Sunan Mataram. Sejak itu pula daerah tersebut bernama Malang.
Timbulnya Kerajaan Kanjuruhan tersebut, oleh para ahli sejarah dipandang sebagai tonggak awal pertumbuhan pusat pemerintahan yang sampai saat ini, setelah 12 abad berselang, telah berkembang menjadi Kota Malang.
Setelah kerajaan Kanjuruhan, di masa emas kerajaan Singasari (1000 tahun setelah Masehi) di daerah Malang masih ditemukan satu kerajaan yang makmur, banyak penduduknya serta tanah-tanah pertanian yang amat subur. Ketika Islam menaklukkan Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1400, Patih Majapahit melarikan diri ke daerah Malang. Ia kemudian mendirikan sebuah kerajaan Hindu yang merdeka, yang oleh putranya diperjuangkan menjadi satu kerajaan yang maju. Pusat kerajaan yang terletak di kota Malang sampai saat ini masih terlihat sisa-sisa bangunan bentengnya yang kokoh bernama Kutobedah di desa Kutobedah. Adalah Sultan Mataram dari Jawa Tengah yang akhirnya datang menaklukkan daerah ini pada tahun 1614 setelah mendapat perlawanan yang tangguh dari penduduk daerah ini.
Seperti halnya kebanyakan kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, Kota Malang modern tumbuh dan berkembang setelah hadirnya administrasi kolonial Hindia Belanda. Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Kesan diskriminatif masih berbekas hingga sekarang, misalnya ''Ijen Boullevard'' dan kawasan sekitarnya. Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas yang kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang menjadi monumen hidup dan seringkali dikunjungi oleh keturunan keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim di sana.
Pada masa penjajahan kolonial Hindia Belanda, daerah Malang dijadikan wilayah "Gemente" (Kota). Sebelum tahun 1964, dalam lambang kota Malang terdapat tulisan ; “Malang namaku, maju tujuanku” terjemahan dari “Malang nominor, sursum moveor”. Ketika kota ini merayakan hari ulang tahunnya yang ke-50 pada tanggal 1 April 1964, kalimat-kalimat tersebut berubah menjadi : “Malangkucecwara”. Semboyan baru ini diusulkan oleh almarhum Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, karena kata tersebut sangat erat hubungannya dengan asal-usul kota Malang yang pada masa Ken Arok kira-kira 7 abad yang lampau telah menjadi nama dari tempat di sekitar atau dekat candi yang bernama Malangkucecwara.
Kota malang mulai tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Belanda, terutama ketika mulai di operasikannya jalur kereta api pada tahun 1879. Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.
Tahun 1767 Kompeni Hindia Belanda memasuki Kota
Tahun 1821 kedudukan Pemerintah Belanda di pusatkan di sekitar kali Brantas
Tahun 1824 Malang mempunyai Asisten Residen
Tahun 1882 rumah-rumah di bagian barat Kota di dirikan dan Kota didirikan alun-alun di bangun.
1 April 1914 Malang di tetapkan sebagai Kotapraja
8 Maret 1942 Malang diduduki Jepang
21 September 1945 Malang masuk Wilayah Republik Indonesia
22 Juli 1947 Malang diduduki Belanda
2 Maret 1947 Pemerintah Republik Indonesia kembali memasuki Kota Malang.
1 Januari 2001, menjadi Pemerintah Kota Malang.

Makna Lambang

DPRDGR mengkukuhkan lambang Kotamadya Malang dengan Perda No. 4/1970. Bunyi semboyan pada lambang adalah "MALANG KUCECWARA"
Motto "MALANG KUCECWARA" berarti Tuhan menghancurkan yang bathil, menegakkan yang benar
Arti Warna :
Merah Putih, adalah lambang bendera nasional Indonesia
Kuning, berarti keluhuran dan kebesaran
Hijau adalah kesuburan
Biru Muda berarti kesetiaan pada Tuhan, negara dan bangsa
Segilima berbentuk perisai bermakna semangat perjuangan kepahlawanan, kondisi geografis, pegunungan, serta semangat membangun untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Semboyan tersebut dipakai sejak hari peringatan 50 tahun berdirinya KOTAPRAJA MALANG 1964, sebelum itu yang digunakan adalah : "MALANG NAMAKU, MAJU TUJUANKU", yang merupakan terjemahan dari "MALANG NOMINOR, SURSUM MOVEOR"
Yang disahkan dengan "Gouvernement besluit dd. 25 April 1938 N. 027". Semboyan baru itu diusulkan oleh Prof.DR. R.Ng.Poerbatjaraka, dan erat hubungannya dengan asal mula Kota Malang pada zaman Ken Arok.

Pembagian administratif

Kota Malang terdiri atas 5 kecamatan, yaitu:
Kedungkandang
Sukun
Klojen
Blimbing
Lowokwaru

Demografi

Gereja Tua peninggalan Belanda di kota Malang
Jumlah penduduk Kota Malang 820.243 (2010), dengan tingkat pertumbuhan 3,9% per tahun.
Sebagian besar adalah suku Jawa, serta sejumlah suku-suku minoritas seperti Madura, Arab, dan Tionghoa.
Agama mayoritas adalah Islam, diikuti dengan Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu. Bangunan tempat ibadah banyak yang telah berdiri semenjak zaman kolonial antara lain Masjid Jami (Masjid Agung), Gereja Hati Kudus Yesus, Gereja Kathedral Ijen (Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel), Klenteng di Kota Lama serta Candi Badut di Kecamatan Sukun dan Pura di puncak Buring. Malang juga menjadi pusat pendidikan keagamaan dengan banyaknya Pesantren, yang terkenal ialah Ponpes Al Hikam pimpinan KH. Hasyim Muzadi, dan juga adanya pusat pendidikan Kristen berupa Seminari Alkitab yang sudah terkenal di seluruh Nusantara, salah satunya adalah Seminari Alkitab Asia Tenggara.
Bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran adalah bahasa sehari-hari masyarakat Malang. Kalangan minoritas Suku Madura menuturkan Bahasa Madura.
Malang dikenal memiliki dialek khas yang disebut Boso Walikan, yaitu cara pengucapan kata secara terbalik, misalnya Malang menjadi Ngalam, bakso menjadi oskab' burung menjadi ngurub, dan contoh lain seperti saya bangga arema menang-ayas bangga arema nganem . Gaya bahasa masyarakat Malang terkenal egaliter dan blak-blakan, yang menunjukkan sikap masyarakatnya yang tegas, lugas dan tidak mengenal basa-basi.

Geografis

Terletak pada ketinggian antara 429 - 667 meter diatas permukaan air laut. 112,06° - 112,07° Bujur Timur dan 7,06° - 8,02° Lintang Selatan, dengan dikelilingi gunung-gunung :
Gunung Arjuno di sebelah Utara
Gunung Semeru di sebelah Timur
Gunung Kawi dan Panderman di sebelah Barat
Gunung Kelud di sebelah Selatan

Iklim

Kondisi iklim Kota Malang selama tahun 2006 tercatat rata-rata suhu udara berkisar antara 22,2 °C - 24,5 °C. Sedangkan suhu maksimum mencapai 32,3 °C dan suhu minimum 17,8 °C . Rata kelembaban udara berkisar 74% - 82%. dengan kelembaban maksimum 97% dan minimum mencapai 37%. Seperti umumnya daerah lain di Indonesia, Kota Malang mengikuti perubahan putaran 2 iklim, musim hujan, dan musim kemarau. Dari hasil pengamatan Stasiun Klimatologi Karangploso curah hujan yang relatif tinggi terjadi pada bulan Januari, Februari, Maret, April, dan Desember. Sedangkan pada bulan Juni, Agustus, dan Nopember curah hujan relatif rendah.

Keadaan Geologi

Keadaan tanah di wilayah Kota Malang antara lain :
Bagian selatan merupakan dataran tinggi yang cukup luas, cocok untuk industri
Bagian utara merupakan dataran tinggi yang subur, cocok untuk pertanian
Bagian timur merupakan dataran tinggi dengan keadaan kurang kurang subur
Bagian barat merupakan dataran tinggi yang amat luas menjadi daerah pendidikan

Pendidikan

Perguruan Tinggi
Malang juga dikenal sebagai Kota Pendidikan, karena memiliki sejumlah perguruan tinggi ternama, Sebagai kota pendidikan, banyak mahasiswa berasal dari luar Malang yang kemudian menetap di Malang, terutama dari wilayah Indonesia Timur seperti Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Papua, bahkan dari luar negeri sekalipun. berikut adalah nama-nama perguruan tinggi di Malang :
Universitas Brawijaya (UB)
Universitas Negeri Malang (UM)
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malik Ibrahim)
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Universitas Merdeka Malang (UNMER)
Universitas Gajayana (UNIGA)
Universitas Islam Malang (UNISMA)
Universitas Kanjuruhan
Universitas Wisnuwardhana Malang
Universitas Widyagama
Universitas Ma Chung
Universitas Kristen Ciptawacana
Universitas Katolik Widya Karya
Universitas Tribhuwana Tungga Dewi
IKIP Budi Utomo
Institut Pertanian Malang
Institut Teknologi Palapa Malang
Institut Teknologi Nasional (ITN)
Politeknik Negeri Malang (POLINEMA)
Politeknik Kota Malang (POLTEKOM)
Politeknik Kesehatan Malang (POLTEKES)
Perguruan Tinggi ASIA
Akademi Pemerintah Dalam Negeri
Akademi Penyuluh Pertanian (APP)
Akademi Kebidanan Widyagama Husada Malang
Akademi Keperawatan Ken Dedes
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Negeri
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)
Sekolah Tinggi Teknik Atlas Nusantara
Sekolah Tinggi Bahasa Asing Malang
Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Widya Sasana
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Malang
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indocakti
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kertanegara
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jaya Negara
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pemnas Indonesia
Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sunan Giri
Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan Malang
Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti
Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana
Sekolah Tinggi Teknik Budi Utomo
Sekolah Tinggi Sosial Politik Waskita Darma
Sekolah Tinggi Informatika & Komputer Indonesia
STECOM RRI (STT RRI) Malang
STIKES Maharani Malang
STIKES Widyagama
STIE Malangkucecwara
STMIK Indonesia
STMIK Ppkia Pradnya Paramita
DLL


Budaya

Kekayaan etnis dan budaya yang dimiliki Kota Malang berpengaruh terhadap kesenian tradisional yang ada. Salah satunya yang terkenal adalah Wayang Topeng Malangan (Topeng Malang), namun kini semakin terkikis oleh kesenian modern. Gaya kesenian ini adalah wujud pertemuan tiga budaya (Jawa Tengahan, Madura, dan Tengger). Hal tersebut terjadi karena Malang memiliki tiga sub-kultur, yaitu sub-kultur budaya Jawa Tengahan yang hidup di lereng gunung Kawi, sub-kultur Madura di lereng gunung Arjuna, dan sub-kultur Tengger sisa budaya Majapahit di lereng gunung Bromo-Semeru. Etnik masyarakat Malang terkenal religius, dinamis, suka bekerja keras, lugas dan bangga dengan identitasnya sebagai Arek Malang (AREMA) serta menjunjung tinggi kebersamaan dan setia kepada malang.
Di kota Malang juga terdapat tempat yang merupakan sarana apresiasi budaya Jawa Timur yaitu Taman Krida Budaya Jawa Timur, di tempat ini sering ditampilkan aneka budaya khas Jawa Timur seperti Ludruk, Ketoprak, Wayang Orang, Wayang Kulit, Reog, Kuda Lumping, Sendra tari, saat ini bertambah kesenian baru yang kian berkembang pesat di kota Malang yaitu kesenian "BANTENGAN" kesenian ini merupakan hasil dari kreatifitas masyarakat asli malang, sejak dahulu sebenarnya kesenian ini sudah dikenal oleh masyarakat malang namun baru sekaranglah "BANTENGAN" lebih dikenal oleh masyarakat tidak hanya masyarakat lokal namun juga luar daerah bahkan mancanegara. Khusus di Malang sering diadakan pergelaran bantengan hampir setiap perayaan hari besar baik keagamaan maupun peringatan hari kemerdekaan.
Festival tahunan yang menjadi event ikon kota juga sering diadakan setiap tahunnya. Beberapa festival kota tahunan diantaranya adalah:
Festival Malang Kembali: Diadakan untuk memperingati HUT Kota Malang, biasa digelar pada tanggal 21 Mei. Festival ini mengusung situasi kota pada masa lalu, mengubah jalan-jalan protokol kota menjadi museum hidup selama kurang lebih 1 minggu festival ini diadakan.
Karnaval Bunga
Karnaval Lampion: Biasa diadakan untuk merayakan hari raya imlek.


Skyline Kawasan Malang Barat
Transportasi

Transportasi Udara
Bandara Kota Malang yang dikenal dengan Bandara Abdul Rachman Saleh mulai berkembang sejak Lumpur Lapindo menghambat perjalanan dari Malang ke Bandara Juanda, Surabaya. Sebelumnya bandara ini adalah bandara militer yang sesekali digunakan untuk event-event tertentu, seperti balap mobil drag race yang memerlukan lintasan yang panjang. Saat ini ada 7 penerbangan, Malang-Jakarta (vice versa) setiap hari dilayani oleh Sriwijaya Air (3 penerbangan), Batavia Air (1 penerbangan) dan Garuda Indonesia (2 penerbangan). Serta Malang-Denpasar dilayani oleh Wings Air (1 penerbangan)

Trasportasi Darat
Kota Malang dilalui jalur kereta api Surabaya-Malang-Blitar-Kediri-Kertosono. Kereta api harian kelas ekonomi (Penataran) melayani jalur Surabaya-Malang via Bangil. Selain itu juga terdapat kereta api Gajayana (eksekutif) jurusan Malang-Jakarta, kereta api Malabar (eksekutif-bisnis-ekonomi) jurusan Malang-Bandung, kereta api Tawang Alun (ekonomi) jurusan Malang-Banyuwangi serta Matarmaja (ekonomi) juga dengan jurusan Malang-Jakarta(Pasar Senen),Kereta api Tumapel (ekonomi) jurusan Malang-Surabaya. Stasiun utama adalah Stasiun Malang (Kota Baru) (+444 M). 2 Stasiun lainnya adalah Stasiun Malang Kotalama (+429 M) dan Stasiun Blimbing (+471 M).
Untuk jalur bus, Terminal Arjosari melayani rute ke seluruh jurusan kota-kota utama di pulau Jawa, Bali, NTB dan Sumatera baik kelas ekonomi maupun eksekutif. Terminal Gadang melayani rute Malang-Lumajang, Malang-Blitar-Tulungagung-Trenggalek. Namun, saat ini keberadaan Terminal Gadang telah digantikan oleh Terminal Hamid Rusdi yang terletak kurang lebih 2 KM di sebelah timur Terminal Gadang. Sedangkan Terminal Landungsari melayani rute Malang-Kediri, Malang-Jombang dan Malang-Tuban.
Adapun 2 sub terminal lainnya adalah Sub-Terminal Madyopuro di bagian timur Kota Malang, tepatnya di daerah Madyopuro (dekat Sawojajar) dan Sub-Terminal Mulyorejo yang terlatak di sebelah barat daya Kota Malang, tepatnya di daerah Mulyorejo Kecamatan Sukun.
Kelima terminal ini terhubung dengan berbagai angkutan kota (biasa disebut angkot). Sebagai contoh, Arjosari-Gadang (AG) (saat ini huruf G diganti dengan huruf H untuk Hamid Rusdi), Hamid Rusdi-Landungsari (HL), Arjosari-Landungsari (AL), dan lain sebagainya termasuk juga dengan angkot yang menuju sub-terminal. Terdapat sekitar 20 trayek angkot di Kota Malang dan 80% wilayah Kota Malang dilalui oleh ke-20 angkot tersebut.

Industri

Kota Malang memiliki pola pertumbuhan industri yang unik, dimana sebagian besar industrinya disokong oleh sektor industri kecil dan mikro. Hanya terdapat beberapa industri manufaktur besar yang terdapat di Kota Malang sebagian disusun atas industri manufaktur padat karya.

Industri Manufaktur
Industri Rokok
Industri Tekstil & Garmen
[sunting]Industri Kecil dan Mikro
Industri Tempe dan Keripik Tempe
Industri Makanan & Minuman
Industri Kerajinan Kaos Arema
Industri Kerajinan Sarung Bantal Dekorasi
Industri Kerajinan Rotan
Industri Kerajinan Mebel
Industri Kerajinan Topeng Malangan
Industri Kerajinan Lampion
Industri Kerajinan Patung & Taman
Industri Kerajinan Keramik & Gerabah
Industri Advertising dan Percetakan

Kompleks Industri Manufaktur & Sentra Industri Mikro
Kompleks Industri Karya Timur
Kompleks Industri Karanglo
Kompleks Industri Pandanwangi
Sentra Industri Keripik Tempe Sanan
Sentra Industri Mebel Blimbing
Sentra Industri Rotan Arjosari
Sentra Industri Keramik Dinoyo
Sentra industri sarang burung

Pusat Rekreasi, Perbelanjaan & Fasilitas Umum

Taman Kota & Ruang Terbuka Hijau
Tarekot (Taman Rekreasi Kota), terletak di belakang kantor Walikota/ Balai kota
Alun-Alun Kota (depan Masjid Jami' Kota Malang & Gedung Pemkab Malang)
Alun-Alun Tugu (depan Balai Kota Malang)
Hutan Kota Malabar

Museum & Perpustakaan
Museum Brawijaya Malang
Museum Bentoel
Museum Mpu Purwa
Museum zoologi Frater Vianney
Perpustakaan Kota Malang (Jalan Ijen)
Taman Rekreasi & Pasar Wisata
Taman Rekreasi Senaputra
Taman Wisata Tlogomas
Pasar Minggu Semeru (Jalan Semeru)
Pasar Minggu Vellodrome (lingkar luar arena Velodrome Sawojajar)
Wisata Kuliner Pulosari
Taman Kridha Budaya Jawa Timur
Taman Rekreasi Lembah Dieng
Playground
Malang Tempoe Doeloe 1 tahun sekali dan di adakan saat pertengahan tahun.

Sarana Olahraga
Stadion Gajayana Malang
GOR Ken Arok
GOR Bima Sakti
Arena Balap Vellodrome
Araya Golf & Family Club
Dieng Family Club
Lembah Dieng swimming pool
Futsal Champion, Futsal Arena, dll
Stadion Kanjuruhan Arema Stadium Clab

Mall & Pusat Perbelanjaan
Mall Malang Town Square (MATOS)
Mall Olympic Garden (MOG)
Mall Araya
Mall Sarinah, terletak di jalan Basuki Rahmad
Mall Sarinah 2, sawojajar
Mall Malang Plasa, terletak di jalan KH. Agus Salim
Mall Gadjah Mada Plasa, terletak di jalan KH. Agus Salim
Mall Mitra I Dept. Store, terletak di jalan KH. Agus Salim
Mall Carefour Express, terletak di Jalan A. Yani
Mall Matahari Dept. Store di pasar besar
Mall Ramayana yg terletak di Jl Merdeka
Dieng Computer Square, jalan Raya Dieng
@MX Mall, jalan Veteran
Hartono elektronik
Gunung Sari Intan
TREND Shop
Sardo Swalayan
Hypermart veteran
Giant kawi
Giant dinoyo
Giant sawojajar
Pasar Besar Malang
Pasar Blimbing
Pasar Dinoyo
Pasar Bunul
Pasar Mergan
Pasar Tawangmangu
Pasar Bareng
Pasar Sukun
Pasar Gadang
Pasar Induk Gadang
Pasar Burung & Tanaman Hias
Pasar Comboran
Pertokoan Kayutangan
Pertokoan Arif Margono
Pusat Ruko Sawojajar
Pusat Ruko Sulfat
Sentra Industri Keripik Tempe Sanan
Sentra Kuliner Pulosari

Bioskop dan Cinema21
Matos21
Mandala21
Dieng21

Hotel Dan Guest House [5]

Hotel Tugu Park
Hotel Santika Malang
Hotel The Graha Cakra Malang
Hotel Aria Gajayana
Gadjah Mada Hotel
Hotel Grand Palace
Hotel Griyadi Montana
Hotel Olino Garden
Regents Park Hotel
Hotel Kartika Graha
Hotel Pelangi
Hotel Trio Indah II
Hotel Wisata Tidar
Hotel Mutiara
Hotel UB
Hotel UMM Inn
Hotel Splendiid Inn
Hotel Agung
Hotel Aloha
Hotel Arjosari
Hotel Arjuna
Hotel Armi
Hotel Bahagia
Hotel Camelia
Hotel Emma
Hotel Emma Mustika Sari
Hotel Flamboyant
Hotel Garuda
Hotel Graha Dewata
Hotel Gress Home Stay
Hotel Griyo Asri
Hotel Griyo Margosuko
Hotel Griyo Sari
Hotel Helios
Hotel Kahuripan
Hotel Kalpataru
Hotel Kartika Kusuma
Hotel Kosabra I
Hotel Kosabra II
Hotel Malang
Hotel Malinda
Hotel Mandala Puri
Hotel Melati
Hotel Megah Mansion
Hotel Megawati
Hotel Nugraha
Hotel Pajajaran Park
Hotel Pelangi II
Hotel Hotel Pusposari
Hotel Riche
Hotel Sahid Montana
Hotel Santoso
Hotel Semarang
Hotel Setia Budi
Hotel Simpang Tiga
Hotel Tirto
Hotel Tlogo Mas
Hotel Tosari
Hotel Wilis Indah
Hotel Windu Kencono
Arman Guest House
D'fresh Guest House
Enny Guest House
PeYe Guest House
Hotel Royal Iin

Kuliner Khas

Bakso Malang
Cwie Mie / Pangsit Mie
Rawon Khas Malang
Kaldu Kambing Kacang ijo
Soto Ayam
Soto Kambing Tunggulwulung
Tempe dan Kripik Tempe Sanan
Tahu Sukun
Kripik buah (kripik apel, nangka, dll.)
Nasi pecel
Rujak Buah
Angsle
Ronde
Sop Dengkul
Sayur Asem Buah Apel
Kare Kikil Singosari
Tahu campur

Klub/Tim Olahraga

Arema Malang (Sepak bola)
Persema Malang (Sepak bola)
Bima sakti Nikko Steel / Avian Bima Sakti (Basket)
United Kencana Bike Team Sepeda
Sasana Arema Singo Edan BC Tinju
Sasana Dhory Gym BC Malang Tinju
Sasana d’Kross Malang Kirno Armase Tinju
Sasana Gajayana Boxing camp Tinju
Sasana Jaguar BC Malang Tinju
Sasana Yon Bek Ang Boxing Camp Tinju
Brazilian Martial Arts Capoeira Senzala Malang Capoeira

Julukan

Tugu Kota Malang dan Balaikota Malang Pada Malam hari
Paris van East Java, karena kondisi alamnya yang indah, iklimnya yang sejuk dan kotanya yang bersih, bagaikan kota "Paris"-nya Jawa Timur.
Kota Wisata, kondisi alam yang elok dan menawan, bersih, sejuk, tenang dan fasilitas wisata yang memadai merupakan ciri-ciri sebuah kota tempat berlibur.
Kota Pendidikan Internasional, situasi kota yang tenang, penduduknya ramah, harga makanan yang relatif murah dan fasilitas pendidikan yang memadai sangat cocok untuk belajar/menempuh pendidikan. Sedikitnya ada lima universitas negeri yang berdiri di Malang: Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Islam Negeri Malang, Politeknik Negeri Malang, Politeknik Negeri Kesehatan Malang dan puluhan atau mungkin ratusan PTS.
Kota Militer, terpilih sebagai Kota Kesatrian. Di kota Malang ini didirikan tempat pelatihan militer, asrama dan mess perwira di sekitar lapangan Rampal, dan pada zaman Jepang dibangun lapangan terbang "Sundeng" di kawasan Perumnas sekarang, selain itu juga ada pabrik amunisi, senjata & kendaraan tempur, Pindad, di Turen, Kabupaten Malang .
Kota Sejarah, sebagai kota yang menyimpan misteri embrio tumbuhnya kerajaan-kerajaan besar seperti Tumapel, Kanjuruhan, Singosari, Kediri (Dhoho), Mojopahit, Demak dan Mataram. Di kota Malang juga terukir awal kemerdekaan Republik bahkan kota Malang tercatat masuk nominasi akan dijadikan Ibukota Negara Republik Indonesia.
Kota Bunga, cita-cita yang merebak di hati setiap warga kota senantiasa menyemarakkan sudut kota dan tiap jengkal tanah warga dengan warna-warni bunga.
Kota Olahraga, Banyak lahir bibit-bibit olahragawan yang berasal dari malang, yang paling terkenal dengan olah raga sepak bolanya terbukti dengan berdirinya 2 team sepak bola seperti Persema dan Arema yang mempunyai prestasi cukup baik di tingkat regional dan nasional,di tambah lagi supporter yang sangat fanatik dan atraktif Ngalamania serta Aremania.
Kota Apel, mempunyai produksi apel yang melimpah berpusat di wilayah Kota Batu dan Poncokusumo sehingga banyak di ekspor ke dalam dan luar negeri. Disana apel diolah menjadi bermacam-macam makanan maupun minuman, Contohnya Sari apel, Keripik Apel, Manisan dll.
Kota Susu, mempunyai produksi susu skala nasional dan internasional yang produksinya terletak di wilayah Pujon Kabupaten Malang. Susu yang didapatkan berasal dari sapi luar negeri sehingga susu yang diperoleh mempunyai kualitas bagus.
Kota Dingin, karena memiliki letak geografis yang dikelilingi pegunungan, a.l. Gunung Arjuno Welirang, Gunung Kawi-Panderman, Gunung Bromo-Semeru.
Kota Pelajar, karena malang memiliki banyak universitas negeri ataupun swsta yang cukup terkenal sehingga banyak orang dari luar pulau yang pindah ke Malang untuk mencari pendidikan yang lebih baik dari kota lain.
Kota Kuliner, Di malang banyak sekali jenis makanan khas yang menggugah selera banyak wisatwan.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Malang#Budaya

Kaos The Mountain

Pasang Iklan Surat Kabar

Pasang Iklan Gratis

Popular Post

Iklan Baris (Gratis)


- Copyright © Iklan Kota Malang - Designed by Johanes Djogan -